SURAT UNTUK IBU
Seseorang yang pertama yang saya kenal dalam hidup ini adalah ibu. Ibu adalah
orang tua yang selalu menjaga, dan merawat saya sejak kecil. Ketika saya sakit types
dan saya di infus di Rumah Sakit, ibulah yang menyemangati, dan selalu mendo’akan
agar saya sembuh. Waktu kecil, saya belum sadar bahwa ibu adalah orang tua yang
harus dihormati. Bahkan waktu kecil saya selalu menyusahkannya. Bukan itu saja
bahkan saya sering sekali membantah dan tidak memperhatikan nasihatnya. Membantah
perintahnya dan menghiraukan nasihatnya.
Setelah saya masuk Sekolah Menengah Pertama atau SMP, saya baru sadar
bahwa seorang ibu itu besar sekali jasanya. Saya baru sadar bahwa selama ini yang
sering memperhatikan dan merawat saya adalah ibu. Setelah sadar akan kenakalan saya
pada ibu, saya berusaha untuk mentaati segala perintah ibu, mendengarkan nasihat, dan
menjauhi segala yang dilarang ibu. Bahkan ketika ayah saya mulai sakit keras, saya
selalu membantu pekerjaan ibu. Pekerjaan yang ibu kerjakan di rumah, saya kerjakan
juga. Pekerjaan itu seperti menyapu rumah, mencuci piring, bahkan saya membantu ibu
memasak buat ayah yang lagi sakit.
Tahun 1997 adalah tahun kesedihan buat saya. Dimana pada tahun tersebut ayah
saya meninggal dunia. Bukan hanya saya, ibu, adik-adik, kakak dan seluruh keluarga
ikut bersedih. Saya ingat sekali pesan yang disampaikan ayah ketika masih hidup.
Hanya satu pesan ayah yang disampaikan. “gus, jagalah adik perempuanmu.” Itulah
yang dikatakan oleh ayah. Kebetulan saya mempunyai adik yang masih bayi. Adik saya
tersebut tidak tahu wajah ayahnya. Karena perkataan ayah tersebut, saya lah yang
membantu ibu merawat adik, belajar membuatkan susu buat adik, belajar memandikan
adik, belajar memberi makan bubur buat adik dan lainnya.
Pada saat itu, setelah pualng sekolah saya tidak pernah keluar rumah. Hanya satu
yang saya pikirkan yaitu membantu ibu menjaga adik. Bahkan teman dekat saya sempat
berkata “gus kenapa kamu pulang sekolah tidak pernah keluar rumah.”? Bahkan saya
disebut kuper sama teman sendiri. Dalam hati saya, biarkan saya kurang pergaulan,
asalkan saya bisa membantu ibu menjaga adik. Peristiwa tersebut berlangsung sampai
saya masuk Sekolah Menengah Atas. Ketika saya belajar di Sekolah Menengah Atas, adik saya masih berumur tiga tahun.
Adik saya masih perlu penjagaan. Selama SMA juga, saya tidak pernah bermain keluar, hanya saja keluar ketika ada pengajian rutin setiap ba’da maghrib. Karena saya tidak pernah keluar rumah, aktifitas semuanya dilakukan di dalam rumah. Selain membantu ibu, saya juga berusaha untuk belajar dan memperbaiki prestasi. Alhamdulillah hasilnya dapat dirasakan saya. Semenjak SMA tersebut saya selalu mendapat rangking kelas, di SMA selalu msuk rangking 3 besar. Bahkan dua tahun berturut-turut mendapatkan beasiswa prestasi dari pemerintah.
Setelah saya lulus SMA, usia adik saya sudah enam tahun. Saatnya adik saya
disekolahkan. Pertama sekolah ke Taman Pendidikan Al-Qur’an. Kebetulan saya juga
diajak oleh guru ngaji mengajarkan iqro. Alhamdulillah, adik bisa saya ajarkan. Itu
berlangsung selama dua tahun. Karena dua tahun setelah lulus dari SMA, saya berniat
melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi yang ada di Tasikmalaya.
Hanya Allah SWT lah yang mengatur segalanya. Dengan izin Allah, alhamdulillah saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar ( UPI PGSD Tasikmalaya ). Ibu juga merasa bangga kepada saya, bahkan ibu saya selalu mendokan yang terbaik. Karena hanya ibu satu-satunya yang mendukung kerja keras saya, kemana ibu pergi pasti ada saya disampingnya. Bahkan orang lain ada yang berkomentar “masa kemanapun pergi suka diantar, malu dong sudah besar.” Saya tidak memperhatikan dan memperdulikan perkataan orang lain. Yang saya pikirkan bahwa ibu adalah orang tua yang wajib dihormati, mengapa mesti malu, menurut saya ibulah yang harus saya dekati karena banyak sekali jasanya.
Bukan hanya belajar di Universitas saja, saya juga belajar di pondok pesantren
dekat rumah. Selain belajar ilmu perkuliahan saya juga belajar ilmu agama. Tahun 2005
saya lulus dari kuliah, namum masih belajar ilmu agama di pesantren. Tahun 2008 saya
melanjutkan lagi ke Universitas Siliwangi yang ada di Tasikmalaya. Ibu sendirilah yang
membantu membiayai kuliah saya. Pada waktu itu saya juga sudah bekerja sebagai guru
TPA, Diniyah dan Madrasah Tsanawiyah yang ada di pesantren. Alhamdulillah bisa
meringankan beban ibu. Tahun 2011 alhamdulillah saya sudah lulus kuliah dari Univrsitas Siliwangi dan memutuskan juga untuk keluar dari pesantren. Pada tahun itu juga saya menikah dengan seorang perempuan sholehah yang bekerja sebagai guru TK di Tasikmalaya. Istri, saya ajak ke Bekasi untuk mendampingi hidup saya. Pada saat itu belum ada Hp android yang bisa mengirim pesan. Pada saat itu saya hanya bisa mengirimkan surat buat ibu. Isi surat tersebut hanya satu yang paling penting yaitu selalu menanyakan kabar ibu.
Apakah kabar ibu sehat atau sakit?. Saya juga selalu menanyakan kabar adik. Apakah
kabar adik saya sehat atau tidak? itulah isi penting surat saya buat ibu. Lewat selembar
surat itulah, saya bisa mengetahui kabar ibu saya.
Tahun 2015 adalah tahun kesedihanku dimana ibu saya dirawat di Rumah Sakit
Islam. Ibu saya terkena penyakit hernia, penyakit karena keletihan, atau dalam sehari-
harinya selalu membawa beban yang sangat berat. Ternyata ketika sakit tersebut ibu
harus dioperasi. Waktu itu saya yang memutuskan ibu harus operasi, bahkan saya
yang menemani ibu tidur di rumah sakit. Pada malam sebelum besoknya dioperasi ibu
sempat berkata “gus malam ini ibu ingin ditemani sama Agus.” “Saya menjawab baik
ibu.” saya tidur di samping ibu sambil membayangkan, apa yang akan terjadi besok hari
setelah ibu dioperasi.
Besok harinya setelah ibu selesai dioperasi saya berpamitan kepada ibu agar
saya diizinkan pulang ke Bekasi. Karena pada waktu itu saya sudah menikah dan
mempunyai bayi kecil. Seminggu dari operasi, ibu saya meninggal dunia. Ternyata
operasinya gagal, ibu saya mengalami pendarahan yang banyak dan koma. Saya dari
Bekasi langsung ke Tasikmalaya untuk melihat kondisi ibu. Ternyata ibu sudah lemah
dan dalam keadaan koma. Saya ikut mentalqinkan ibu sampai akhir hayatnya. Disanalah
saya mensngis sejadi-jadinya tetapi kakak, adik-adik menyadarkan saya. Saya sadar dan
ikhlas bahwa kehilangan ibu adalah sudah takdir dari Allah SWT yang Maha Esa.
Komentar
Posting Komentar