Senin, 22 Februari 2021

 

 Sholat Jama' dan Qasar . Agus sugiana

Pengertian shalat ialah beberapa perbuatan dan perkataan yang dimulai dengan Takbiratul ihram dan ditutup (diakhiri) dengan salam. Shalat ada dua macam, yaitu shalat wajib (fardhu) dan shalat sunnat. Shalat wajib ada lima yaitu zuhur, ashar, maghrib, isya dan subuh. Adapun shalat sunnat lebih banyak dari shalat wajib (sebagaimana akan datang penjelasannya).

Shalat wajib pada keadaan tertentu boleh dijama’ (dihimpun 2 shalat dalam satu waktu) dan dapat pula dipendekkan (diqashar) yaitu yang biasanya empat rakaat dijadikan 2 rakaat.

Shalat Jama’

Shalat jama’ artinya shalat yang dikumpulkan. Orang dalam perjalanan boleh mengumpulkan dua shalat fardhu dalam satu waktu shalat. Shalat jama’ ada dua macam, yaitu:

  • Jama’ Taqdim, artinya mengumpulkan kemuka, yaitu mengerjakan shalat maghrib dengan isya dalam waktu maghrib, dan mengerjakan shalat zuhur dan ashar dalam waktu zuhur. Jadi dalam waktu ashar dan maghrib tidak mengerjakan shalat lagi.
  • Jama’ Takhir, artinya mengumpulkan kebelakang, yaitu mengerjakan shalat zuhur dan ashar dalam waktu ashar, dan mengerjakan shalat maghrib dan isya dalam waktu isya. Dalam waktu zuhur dan maghrib tidak mengerjakan shalat lagi.

Syarat jama’ taqdim, yaitu:

  1. Shalat zuhur lebih dahulu dikerjakan dari shalat ’ashar, dan shalat maghrib lebih dahulu dari shalat isya.
  2. Berniat jama’ dalam shalat yang pertama, yaitu berniat dalam shalat zuhur atau dalam shalat maghrib menjama’kan shalat. Niat jama’ boleh dilakukan selama belum selesai memberi salam dari shalat yang pertama.
  3. Shalat yang dijama’ dikerjakan beriring-iringan, tidak boleh lama perpisahan antara keduanya.
  4. Senantiasa dalam perjalanan hingga dimulai takbiratul ihram shalat yang kedua. Jika sebelum takbiratul ihram yang kedua ia telah sampai di tempat tinggalnya, tidak boleh dijama’kan shalat itu lagi, tetapi haruslah shalat ashar atau isya dikerjakan dalam waktunya masing-masing.
  5. Perjalanan itu tidak maksiat.

Syarat jama’ takhrir, yaitu:

  1. Berniat mengumpulkan shalat dalam waktu shalat yang pertama, yaitu dalam waktu zuhur atau maghrib, berniat akan mengumpulkan shalat zuhur dengan ashar atau akan mengumpulkan shalat magrib dengan isya.
  2. Senantiasa dalam perjalanan hingga selesai shalat tersebut keduanya.
  3. Sekurang-kurang perjalanan sejauh perjalanan dua hari.(± 90 km)
  4. Perjalanan yang tentu tujuannya.
  5. Perjalanan itu tidak maksiat.

Shalat Qashar

Syarat shalat qashar, yaitu:

  1. Sekurang-kurangnya perjalanan yang ditempuh sejauh perjalanan dua hari.Dalam kitab Dalil-ul Musafir, jarak perjalanan dua hari itu 89.040 meter.
  2. Berniat mangqashar shalat dalam takbiratul ihram. Misal niatnya: ”aku sengaja mengerjakan shalat fardhu zuhur dua rakaat qashar karena Allah”.
  3. Perjalanan itu tidak maksiat.
  4. Perjalanan itu menuju tempat yang tertentu. Orang yang tidak tertentu tujuan perjalanannya, tidak boleh mengqashar shalat.
  5. Tidak berimam kepada orang yang tidak mengqashar shalatnya.
  6. Senantiasa dalam perjalanan hingga selesai shalat. Orang yang shalat naik kenderaan misalnya, sebelum memberi salam telah sampai ke tempat tinggalnya, harus menyempurnakan shalatnya itu empat rakaat.
  7. Tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan qashar. Misalnya berniat menetap pada tempat melakukan qashar sampai empat hari dan empat malam atau lebih. Apabila ia berniat akan menetap di tempat itu selama waktu tersebut atau lebih, maka mulai dari waktu itu ia tidak boleh melakukan qashar lagi.
  8. Tidak memilih jalan yang jauh dan meninggalkan jalan yang dekat dengan maksud supaya boleh qashar. Dan jika ia menempuh jalan itu karena lebih bagus atau lebih aman misalnya, maka boleh mengqasharnya.

Shalat jama’ dan qashar

Orang yang dalam perjalanan yang tidak maksiat boleh mengumpulkan shalat jama’ dan qashar, yaitu mengumpulkan dua shalat dan bersama-sama dengan itu memendekkannya pula. Shalat zuhur dan ashar dipendekkan menjadi dua rakaat lalu dijama’kan dengan jama’ taqdim atau takhrir. Demikian juga shalat isya dipendekkan menjadi dua rakaat lalu dijama’kan dengan shalat maghrib tiga rakaat dengan jama’ taqdim atau jama’ takhrir.

Cara mengerjakan shalat jama dengan qasar tidak berbeda dengan mengerjakan shalat jama saja selain dari jumlah rakaatnya, yaitu pada shalat qasar dikerjakan shalat empat rakaat menjadi dua rakaat. Sedangkan shalat yang 3 rakaat dan dua rakaat tidak boleh diqashar lagi.


Minggu, 14 Februari 2021

 Tahan lisan untuk ke surga
Allah SWT telah memberikan anggota tubuh yang lengkap kepada manusia. Salah satunya adalah lisan yang sering kita gunakan untuk berbicara dalam kehidupan sehari-hari. Jagalah lisan kita dengan tidak mengucapkan perkataan yang tidak baik, jika tidak menemukan perkataan yang baik maka diam, dan mulut  kita tidak mengkonsumsi kecuali  yang dihalalkan Allah SWT, niscaya ia akan memasuki surganya Allah SWT.
Sebaliknya, jika kita tidak menjaga lisan dengan baik sehingga menggunakan lisan kita untuk membicarakan kejelekan orang lain, menghina, menghujat dan lainnya. Mulut digunakan untuk mengkonsumsi hal yang diharamkan oleh Allah SWT niscaya hal tersebut akan menjerumuskan kita ke dalam api neraka.
Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir hendaklah berkata baik, atau diam (muttafaqun ‘alaih).
Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullahu sallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Barang siapa yang mampu menjamin apa yang ada diantara kedua rahangnya (lisan) dan apa yang ada diantara kedua kakinya (kemaluan) aku menjamin baginya surga.” (Muttafaq ‘alaih).
Kita sebagai manusia beriman harus senantiasa menjaga lisan kita. Sebab satu kata yang diucapkan oleh lisan kita  bisa membawa ke surga atau ke neraka. Diriwayatkan dari sahabat rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat tanpa dipikirkan terlebih dahulu, dan karenanya dia terlempar ke neraka sejauh antara jarak ke timur.” (HR Bukhari)
Dalam hadits lainnya disebutkan “Dari Abu Hurairah Nabi SAW, beliau bersabda : “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang membuat Allah SWT rida kepadanaya, sang hamba sendiri sama sekali tidak memperhitungkan, namun dengan satu kata itu , allah SWT naikkan derajatnya beberapa derajat, dan sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang membuat Allah murka, sang hamba sendiri tidak memperhitungkannya, namun gara-gara satu kata tersebut sang hamba terperosok ke dalam neraka Jahannam.” (Mutafaq ‘alaih).
Otak kita harus bisa mengendalikan lisan kita dalam berucap. Setiap yang diucapkan oleh lisan akan direkam bahkan diawasi oleh dua malaikat Allah SWT. Ini telah Allah jelaskan dalam Al-Qur’an Surat Qaf ayat 18 yaitu: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (Qur’an Surah Qaf 18).
Ayat diatas menjelaskan bahwa seseorang tidak mengeluarkan kata-kata dan berbicara, kecuali disisinya ada malaikat yang mengawasi ucapannya dan menulisnya, malaikat yang selalu hadir disiapkan untuk melakukan itu.
Penting sekali bagi kita sebagai orang yang beriman untuk menjaga lisan. Rasulullah selalu memberi tuntunan agar kita bergaul dengan sesama senantiasa mengatakan hal-hal yang benar tentang suatu hal atau mengenai orang lain. Atau bahkan lebih baik diam agar tidak salah ucap. Karena semua berita yang datang pantas benar dan pantas juga salah.

 Langkah-langkah dasar dalam belajar
Abu Umar Ibnu Abdil Barr Al-Qurtthubi (463) membawakan riwayat dengan sanadnya sampai kepada Ali bin Hasan bin Syaqiq ia Ali mengatakan, aku mendengar Abdullah Bin Mubarak (181 H ) mengatakan bahwa:
Tingkatan pertama ilmu adalah niat. Niat yang baik akan menghasilkan yang baik, sebaliknya niat yang tidak baik akan menghasilkan yang tidak baik pula. Jika kita menanam padi maka kita akan memanen padi dan jika kita menanam cabai pasti akan memanen cabai. Jika kita belajar maka harus mempunyai niat lillahi ta’ala. Mencari ilmu karena semata-mata mencar ridho Allah insha Allah  akan menghasilkan ilmu-ilmu yang berkah dan bermanfaat buat diri sendiri bahkan buat semua orang.
Kedua, mendengarkan. Proses yang kedua dalam belajar adalah mendengarkan. Dengarkan dahulu materi-materi pelajaran yang diberikan oleh guru kita. Agar materi yang disampaikan oleh seorang guru akan terekam oleh telinga kita dan pikiran kita.
Ketiga, memahami. Proses memahami adalah tingkatan ketiga setelah kita mendengarkan. Setelah materi-materi didengarkan kemudian materi tersebut harus dipahami oleh pikiran kita, bahkan harus dipahami oleh hati kita.
Keempat,menghafal. Kemudian tingkatan belajar yang keempat adalah menghafal. Materi-materi yang sudah dipahami kemudian kita hafalkan satu persatu. Setelah hafal  jangan lupa untuk selalu mengulangi hafalan tersebut agar tidak hilang. Jaga hafalan tersebut dalam pikiran kita dan hati kita jangan biarkan menjadi hilang atau lupa.                          
Kelima,  mengamalkan. Tingkatan belajar yang kelima adalah mengamalkannya. Setelah proses memahami ilmu barulah kita selalu mengamalkan ilmu-ilmu yang harus dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Kita memahami ilmu sholat yang benar maka amalkan ilmu sholat yang benar tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Keenam, menyebarkan. Tingkatan yang keenam adalah menyebarluaskan ilmu tersebut. Ilmu yang disebarkan tentunya ilmu yang bermanfaat. Karena ilmu yang bermanfaat yang disebarkan akan menjadikan amal jariyah kita yang akan mengalir ke alam barzah kita. Ada tiga amalan yang akan mengalir ke alam barzah ketika kita sudah meninggal diantaranya adalah anak sholeh yang selalu mendo’akan ibu bapaknya, shodaqoh jariyah dan ilmu yang bermanfaat yang tentunya diamalkan.
Keenam tingkatan belajar ini harus dimiliki oleh semua murid agar ilmu yang dipelajarinya akan mudah didapatkan.
Kita sebagai orang tua atau guru harus memberikan kepada anak atau muridnya langkah-langkah teratur dalam memperoleh ilmu. Orang tua atau guru yang tidak memberikan anak didiknya langkah teratur dalam memperoleh ilmu hampir saja dikatakan tidak mengemban amanah dalam melaksanakan tugasnya. Apa saja tugas sebagai seorang ayah atau ibu kepada anaknya dan sebagai seorang guru  kepada peserta didiknya.
1. Luruskan anak kita atau peserta didik kita agar mempunyai niat yang benar.
2. Latih peserta didik kita untuk selalu diam dan selalu mendengarkan
3. Latih peserta didik kita untuk memahami satu persatu permasalahan
4. Bantu mereka untuk selalu menghafalkan ilmu
5. Mencontohkan kepada peserta didik bagaimana mengamalkan ilmu
6. Mengajarkan kepada peserta didik untuk selalu menyebarkan ilmu tersebut
Rambu-rambu yang harus dimiliki oleh orang tua atau guru terhadap anak atau muridnya diantaranya adalah:
1. Saat memberi hadiah atas keberhasilan sang anak sekalipun ucapan "semoga Allah”mengikhlaskan   niatmu dalam belajar do'akan anak didik kita dalam setiap kesempatan dengan do'a terbaik"
2. Kelas yang ribut dan tidak tertata rapih tidak layak untuk memulai pelajaran dan diberikan materi karena langkah kedua tidak boleh dilewati sangat tidak mungkin kalau langsung menapaki langkah  yang ke tiga
3. Materi yang belum faham harus diajarkan kembali jangan sampai materi satu belum faham sudah beralih ke materi selanjutnya.
4. Mengajarkan ilmu dari yang paling dasar sampai kepada ilmu yang tertinggi atau tersulit sesuai dengan tingkat kebutuhan siswa
5. Orang tua atau guru adalah teladan bagi setiap peserta didik.  Mohnkan kepada Allah agar diberi taufik dalam usaha menjadi teladan bagi anak didik,  menyebarkan ilmu dalam berbagai kesempatan, bukan menyebar obrolan yang tidak jelas maslahatnya atau ada namun sangat sedikit.

  Patuh kepada orang tua dan mengikuti nasihat orang tua akan membawa pada kesuksesan
    Bagaimana cara untuk menghindari durhaka kepada orang tua agar tidak mendapatkan sangsi dari Allah SWT? Jawabannya adalah kita sebagai seorang anak harus patuh kepada kedua orang tua dengan mengikuti segala perintahnya dan nasihatnya. Karena nasihat orang tua akan membawa kesuksesan hidup di dunia  dan akhirat. Kesuksesan hidup di akhirat adalah mendapatkan surganya Allah SWT.
    Sebagai anak yang sholeh dan sholehah, tentunya memiliki kewajiban berbakti kepada orang tua baik ibu maupun ayah. Bahkan Agama islam mengajarkan dan mewajibkan kita sebagai seorang anak untuk patuh kepada ibu maupun ayah. Patuh kepada orang tua merupakan salah satu sifat yang terpuji.
    Mungkin kita sebagai anak tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ketaatan, kepatuhan pemuda  sholeh zaman dulu. Salah satu pemuda  sholeh zaman dahulu adalah Uwais al-Qarni. Marilah kita simak cerita Uwais al-Qarni agar menjadi renungan buat kita semua agar lebih taat, patuh kepada kedua orang tua. Agar nanti kita mendapatkan kemulian seperti Uwais al-Qarni.
    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda bahwa sebaik-baik tabiin atau pengikut adalah seorang laki-laki yang biasa dipanggil Uwais . Nama lengkapnya Uwais al-Qarni . Beliau adalah seorang anak yatim da hanya tinggal bersama ibunya yang sudah tua dan lumpuh di Yaman.
    Uwais dan ibunya adalah keluarga yang fakir. Rasululah sempat berpesan kepada Umar Bin Khattab  dan Ali Bin Abi Thalib untuk mencari Uwais.
“Carilah ia (Uwais al-Qarni) dan mintalah kepadanya agar memohonkan ampun untuk kalian,”sabda Rasulullah yang diriwayatkan dalam hadits Shohih Muslim.
    Uwais al-Qorni adalah sosok pemuda yang selalu berbakti kepada ibunya. Uwais sangat memuliakan ibunya dengan senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Apapun yang diperintah ibunya atau dilarang ibunya Uwais selalu patuh dan mengikutinya.
    Pada satu waktu, Uwais meminta izin kepada ibunya untuk berjumpa denganRasulullah SAW yang pada saat itu sedang berada di Madinah. Ibunya mengizinkan dan berpesan kepada Uwais agar cepat pulang karena merasa sakit-sakitan. Sampai di Madinah Uwais langung menuju rumah Rasulullah. Namun sayang Uwais tidak bisa menemui Rasulullah sebab sedang di Medan perang.
    Uwais teringat pesan sang ibu agar lekas kembali ke Yaman, Uwais langsung berpamitan kepada Siti Aisyah RA, istri Rasulullah yang ketika itu sedang berada di rumah. Tidak lupa Uwais menitipkan salam buat Rasulullah SAW. Setelah itu Uwais meninggalkan Madinah dan kembali lagi menemui ibunya di Yaman.
    Uwais adalah pemuda yang senantiasa memenuhi keinginan ibunya. Sang ibu yang sudah tua ingin sangat ingin sekali pergi berhaji. Padahal dengan kondisi ibunya sakit-sakitan dan tidak ada uang, Uwais sangat berat untuk memenuhi keinginan ibunya.
    Dari Yaman, perjalanan ke Tanah Suci Makkah sangatlah jauh. Melewati padang tandus yang panas. Orang-orang dari Yaman biasa pergi ke Makkah menggunakan unta dan membawa banayk perbekalan.
Tidak berhenti di situ, Uwais terus berpikir untuk mencari jalan keluar agar ibunya bisa berangkat ke Tanah Suci Makkah. Kemudian Uwais membeli seekor anak lembu yang kemudian membuat kandang di puncak bukit. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. Banyak orang yaman pada waktu itu menganggap aneh kepada Uwais.
    Setelah 8 bulan berat lembu Uwais telak=h mencapai 100 kilogram. Saat tiba musim haji, Uwais merasa bahwa otot-ototnya sudah kuat dan siap untuk mengangkat beban berat. Dia pun menggendong sang ibu dari Yaman ke Makah untuk menunaikan ibadah haji.
    Ketika di Tanah Suci Makah, Uwais al-Qarni dengan tegap menggendong ibunya wukuf di Arafah dan Thowaf di Kakbah. Di depan kakbah air mata sang ibu tumpah.Uwais pun berdo’a, “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu.” “bagaimana dengan dosamu?” tanya sang ibu yang heran karena Uwais tak minta dosanya diampuni.
“Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.” Jawab Uwais.
Allah subhanahu wata’ala pun memberikan karunia untuk Uwais.  Penyakit belang di tubuh Uwais seketika itu juga sembuh. Hanya tertinggal bulatan putih di tengkuknya. Tanda di tengkuk itu merupakan sebuah tanda sebagaimana disebutkan Rasulullah kepada Umar bin Khatab dan Ali Bin Abi thalib untuk mengenali Uwais. Pada akhirnya Umar bin Khatab dan Ali bin Abi Thalib berhasil menemui Uwais. Seperti pesan Rasulullah SAW bahwa Umar bin Khatab dan Ali bin Abi Thalib meminta Uwais agar mendo’akan mereka diampuni Allah SWT.
    Beberapa tahun setelah dengan Umar bin Khatab dan Ali, Uwais wafat. Masyarakat yaman ketika itu heran, sebab banyak orang berbuat untuk memandikan, mensholatkan, dan menguburkan jenazah Uwais.
    Banyak meyakini bahwa, orang-orang yang berbuat memandikan, mensholatkan dan menguburkan jenazah Uwais al-Qarni ketika itu adalah para malaikat Allah SWT.

 Sangsi durhaka kepada kedua  orang tua

    Kewajiban berbuat baik kepada orang tua kita sangat ditekankan sekali, dan boleh dikatakan menduduki urutan nomer dua setelah kewajiban menaati Allah SWT dan rosulNya. Oleh karena itu jika kita berbuat durhaka kepada orang tua kita tentu saja ada konsekuensi atau sangsi yang akan diterima oleh kita ketika di dunia dan akhirat. Sangsi yang akan diterima seorang anak yang durhaka diantaranya adalah:
Pertama : Orang yang durhaka kepada orang tua akan mendapat    siksaan neraka nanti di akhirat jika ibu bapa yang bersangkutan tidak memaafkannya.
Banyak sekali anak yang durhaka kepada orang tuanya tidak meminta maaf kepada orang tuanya, bahkan ada pula orang tua karena hatinya sakit sehingga  tidak mau memberi maaf kepada anaknya sampai orang tuanya meninggal dunia, tentunya ini akan ada balasannya di akhirat nanti yaitu siksaan neraka buat anak yang durhaka tersebut.
Rosulullah SAW bersabda. “Sebesar-besar dosa besar ialah menyekutukan Allah, membunuh orang, berani (durhaka) kepada orang tua, dan berkata dusta(saksi palsu)”. (HR Bukhari).
Kedua : Durhaka kepada orang tua menyebabkan semua amal menjadi percuma, sia-sia dan tidak bermanfaat sama sekali.
    Buat apa kita memperbanyak kebaikan kita sementara kita berani atau durhaka kepada orang tua kita?. Tentu saja segala kebaikan yang kita lakukan akan tidak bermanfaat atau akan sia-sia jika kita berani atau durhaka kepada orang tua kita. Sebaliknya jika kita berbuat baik kepada orang tua kita dan amal kebaikan kita tentunya segala amal kita akan menjadi ladang ibadah buat kita nanti di akhirat. Rosulullah SAW bersabda. “ Tiga perkara yang menyebabkan segala amal tidak bermanfaat lagi ialah: menyekutukan Allah SWT, durhaka kepada ibu bapak dan lari dari medan perang”. (HR Thabrani).
    Perlu dijelaskan sekali lagi bahwa meskipun amal kebaikan kita banyak namun, kita sebagai anak durhaka kepada orang tuai maka segala amal kita akan percuma atau tidak bermanfaat sama sekali.
Ketiga : Allah SWT akan menyegerakan balasan di dunia kepada orang yang durhaka kepada kedua orang tua dan kemungkinan ada lagi pembalasan nanti di akhirat kelak.
    Betapa  takutnya apabila kita durhaka kepada kedua orang tua, karena pembalasannya  akan Allah SWT segerakan ketika di dunia. Mudah-mudahan  kita semuanya tidak termasuk anak yang durhaka kepada kedua orang tua  dan mudah-mudahan kita semuanya termasuk ikhwan akhwat yang selalu berbakti kepada orang tua kita. Sabda Rosulullah SAW.
 “Tiap-tiap dosa itu diakhirkan (ditangguhkan) pembalasannya oleh Allah SWT sesuai dengan kehendakNya sampai hari qiamat, kecuali dosa karena durhaka kepada ibu bapak disegerakan oleh Allah SWT pembalasannya kepada yang bersangkutan”.

 Istri sholehah adalah istri yang taat dan menjalankan etika terhadap suaminya

    Mempunyai istri yang sholehah adalah dambaan seorang pemuda yang sholeh. Istri sholehah adalah istri yang selalu taat dan menjalankan semua etika terhadap suaminya. Ketaatan disini dalam bentuk segala perintah suami yang baik, dan bermanfaat. Seorang suami yang bijak tidak akan menyuruh seorang istri berbuat yang tidak baik. Seorang istri boleh tidak taat kepada suami apabila suami menyuruh tidak baik, menyuruh untuk bermaksiat, menyuruh untuk tidak beribadah kepada Allah SWT.
    Istri yang sholehah adalah istri yang menjalankan etika terhadap suaminya. Sedikitnya ada enam belas etika istri terhadap suami yang harus dijalankan seorang istri dalam kehidupan sehari-hari. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 442) menjelaskan mengenai etika seorang istri terhadap suaminya yaitu:
“Adab istri terhadap suami, yakni: selalu merasa malu, tidak banyak mendebat, senantiasa taat atas perintahnya, diam ketika suami sedang berbicara, menjaga kehormatan suami ketika ia sedang pergi, tidak berkiahanat dalam menjaga harta suami, menjaga badan tetap berbau harum, mulut berbau harum dan berpakaian bersih, menampakkan qana’ah, menampilkan sikap belas kasih, selalu berhias, memuliakan kerabat dan keluarga suami, melihat kenyataan suami dengan keutamaan, menerima hasil kerja suami dengan rasa syukur, menampakkan rasa cinta kepada suami kala berada di dekatnya, menampakkan rasa gembira di kala melihat suami.”
Dari etika diatas perlu dijelaskan lebih detail satu persatu:
Petama, senantiasa merasa malu terhadap suami. Meskipun seorang istri sudah lama menikah tetapi harus tetap mempunyai rasa malu terhadap suaminya. Rasa malu disini dalam arti yang baik. Seorang istri harus malu di hadapan suami ketika penampilannya kuarng menarik , perangainya kurang baik, atau prilakunya buruk, malu selalu melawan perkataan seorang suami. Ingat seorang suami adalah kepala keluarga dan keridhoan Allah ada pada suami. Karena Allah SWT akan ridho kepada seorang istri jika suaminya sudah ridha. Allah SWT menunjukan maqam suami atas maqam istri.

    Kedua, tidak banyak mendebat. Jika ada perdebatan harus diselesaikan secepat mungkin.Tentunya ketika berdebat harus ada yang mengalah salah satu pihak. Dan seorang istri tidak mendebat suami dalam hal-hal yang tidak perlu. Seorang istri hendaknya tidak mendebat suami dalam hal-hal yang tidak perlu. Namun demikian diskusilah dengan suami untuk mencari solusi terbaik dari suatu permasalahan.

         Ketiga, senantiasa taat atas perintahnya. Patuh dan taat pada suami adalah kewajiban . Seberat apapun perintah suami harus dipatuhi seorang istri selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syariat agama. Seorang istri harus selalu menunjukan ketaatannya kapanpun dan dimanapun berada.

 Keempat,diam ketika suami sedang berbicara. Seorang istri yang sholehah adalah istri yang selalu mendengarkan dengan baik ketika suaminya berbicara.
Sebanyak apapun pembicaraanya seorang istri harus tetap mendengarkan, dan jangan sekali-kali istri memotong pembicaraan suami. Apabila ingin memotong pembicaraan maka seorang istri harus meminta izin atau persetujuan suami terlebih dahulu. Jika suami memberikan izin barulah istri berbicara dan jika suami tidak memberi izin maka sebaiknya istri diam untuk mendengarkan.
Kelima, menjaga keharmonisan suami ketika sedang pergi. Seorang istri hendaklah berprrilaku baik ketika suaminya pergi karena ada keperluan pekerjaan dan lainnya. Seorang istri harus mempunyai rasa malu jika melakukan hal-hal yang tidak terpuji ketika suaminya tidak ada. Sebaiknya seorang istri tetap di rumah mengerjakan tugasnya sebagai seorang istri. Dan selalu menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai yang nantinya akan menimbulkan ketidakharmonisan dalam keluarga.
Keenam, tidak berkhianat dalam menjaga harta suami. Biasanya seorang istri adalah orang yang paling dipercayai memegang harta suaminya. Sebaiknya seorang istri tidak berkhianat dengan membelanjakan sebagian hartanya atau seluruh hartanya dengan menghambur-hamburkan pada barang-barang yang tidak penting. Sebaiknya seorang istri ketika menggunakan harta suaminya harus meminta izin terlebih dahulu dan menjelaskan sedetail-detainya untuk keperluan apa saja harta tersebut digunakan?. Alangkah indahnya jika seorang istri dan suami saling terbuka dalam segala hal. Dengan demikian kedepannya tidak akan ada masalah yang akan dipersoalkan sehingga keharmonisan dalam keluarga akan tetap terjalin.
Ketujuh, menjaga badan tetap berbau harum. Hendaknya seorang istri  menjaga badan agar tetap berbau harum di hadapan suaminya. Banyak cara yang dilakukan oleh seorang istri agar badannya selalu harum di depan suaminya. Salah satu caranya dengan tetap memperhatikan kebersihan badannya, pakaiannya, tempat tinggalnya. Untuk kebersihan badan biasanya dengan mandi teratur dengan sabun yang wangi untuk menjaga agar badan tetap segar. Kebersihan pakaian dengan selalu mencuci pakaian dengan menggunakan sabun cuci dan pewangi agar tetap bersih serta wangi. Untuk kebersihan lingkungan rumah dengan selalu membersihkan rumah setiap hari tanpa henti agar lingkungan rumahnya tetap bersih.
Kedelapan, mulut berbau segar dan pakaian bersih. Yang harus diperhatikan seorang istri selanjutnya adalah bau mulutnya harus selalu segar dan pakaian yang dipakainya harus selalu bersih. Kedua hal ini harus selalu ada ketika berinteraksi dengan suami karena akan menimbulkan rasa nyaman. Seorang suami tentunya akan senang jika seorang  istri selalu memperhatikan kebersihan badannya dan pakaiannya.
Kesembilan, seorang istri menampakkan sifat qona’ah. Seorang istri hendaknya mempunyai sifat qona’ah dalam dirinya. Semua  pemberian suami harus tetap disyukuri meskipun jumlah atau wujud pemberiannya kecil. Istri yang selalu mensyukuri pemberian suaminya termasuk istri yang sholehah istri dambaan semua suami.

Kesepuluh, menampilkan sikap belas kasih. Istri yang sholehah mempunyai belas kasih kepada suami atas semua perjuangan serta jerih payahnya. Sebaiknya seorang istri harus hati-hati dalam bertindak kepada suaminya. Seorang istri tidak bersikap kasar dengan ucapan dan perbuatannya. Ucapannya tidak merendahkan suami serta tidak menindas suami ketika suami dalam keadaan lemah.
Kesebelas, selalu berhias. Seorang istri sebaiknya selalu berpenampilan menarik di depan suaminya. Seorang istri yang menarik di hadapan suami akan membuat suami betah di rumah. Selain wajahnya yang cantik karena berhias seorang istri harus selalu tersenyum di hadapan suami.
Kedua belas, memuliakan kerabat dan keluarga suami. Seorang istri harus memahami bahwa suaminya pasti memiliki hubungan emosional dengan para kerabat keluarganya. Sebab itu istri sholehah harus memuliakan kerabat dan keluarga suami tersebut. Dimanapun bertemu dan berinteraksi tetap kita harus memuliakan kerabat dan keluarga suami..
Ketiga belas, melihat kenyataan suami dengan keutamaan. Seorang istri hendaknya melihat seorang suami sebagai kenyataan. Sebagai seorang istri mendapati suaminya adalah baik maka harus menyukurinya. Jika sebaliknya, maka seorang istri harus bersikap sabar untuk menerimanya. Karena sabar adalah puncaknya ilmu.

Keempat belas, menerima hasil kerja suami dengan rasa syukur. Hendaklah seorang istri menerima hasil kerja suami dengan rasa syukur. Baik penghasilan suami besar ataupun kecil seorang istri harus menerimanya. Rasa syukur istri terhadap penghasilan suami akan membuat kenyamanan di hati suami. Serta dengan mensyukuri nikmatNya, Allah SWT akan menambahkan dengan berbagai nikmat yang lain.
Kelima belas, menampakkan rasa cinta kepada suami kala berada di dekatnya. Rasa cinta adalah menyatunya hati antara istri dan suami. Hendaklah seorang istri menampakkan rasa cinta  kepada suami kala berada di dekatnya. Dengan rasa cinta yang ditampakkan seorang istri akan membuat seorang suami lebih-lebih mencintai istrinya. Tetapi sebagai seorang muslim dalam masalah cinta yang harus di dahului adalah cinta kita kepada Allah SWT. Jangan sampai cinta kita kepada istri atau suami kita mengalahkan cintanya kepada Allah dan RasulnyNya. Barulah setelah cinta kita kepada Allah dan Rasulnya kita cinta kepada ibu, bapa, suami atau istri, kerabat, serta saudara-saudara seiman.
Keenam belas, menampakkan rasa gembira di kala melihat suami. Ketika suami pulang kerja, pulang dari kerabatnya atau dari manapun, bagi seorang istri harus menampakkan rasa gembira ketika melihatnya. Ketika seorang istri menampakkan rasa gembira tentu sebaliknya seorang suami juga akan menampakkan rasa gembira ketika istrinya bergembira. Kegembiraan dalam keluarga akan menjadikan keluarga selalu ada dalam ketenangan, keharmonisan, penuh dengan  cinta dan kasih sayang. Sehingga tujuan dari rumah tangga tersebut akan tercapai.
Demikianlah keenam belas adab istri terhadap suami sebagaimana dinasihatkan Imam Al-Ghazali. Semakin banyak adab terhadap suami yang bisa dilaksanakan, semakin tinggi derajat kesholehan istri. Istri sholehah adalah istri yang taat serta menjalankan adab terhadap suaminya .Semakin banyak dan tinggi nilai etika terhadap suami  maka semakin tinggi kemuliaan seorang istri tersebut di hadapan Allah SWT.

 lanjutan Surga ada di bawah telapak kaki ibu

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan katakanlah: Wahai tuhanku , kasihanilah kiranya keduanya, sebagaimana keduanya telah mengasihani aku ketika aku masih kecil” (QS Al-Isra ayat 23-24).
Surga ada di bawah telapak kaki ibu bermakna kita harus selalu berbakti kepada ibu. Karena khusus seorang ibu lebih besar pengorbanannya, telah berjuang sangat keras sejak mengandung sembilan bulan, menyapihnya dalam dua tahun serta membesarkan hingga dewasa. Ibu berperan sangat penting dalam keluarga terutama dalam tumbuh kembangnya seorang anak.
Kita sering mendengar pernyataan “surga berada di telapak kaki ibu” makna sebenarnya adalah sebagai seorang anak harus berbakti kepada ibu. Karena seorang ibu memiliki kedudukan tertinggi dalam islam. Ini dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW dari Abu Hurairoh ra berkata
"Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dan berkata, 'Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?' Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam menjawab, 'Ibumu!' Dan orang tersebut kembali bertanya, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam menjawab, 'Ibumu!' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi?' Beliau menjawab, 'Ibumu.' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi,' Nabi shalallahu 'alaihi wasallam menjawab, 'Kemudian ayahmu. (HR. Bukhari)
Di dalam hadits di atas  nama ibu disebutkan sebanyak tiga kali dan ayah satu kali. Inilah  kiasan bahwa  "surga di telapak kaki ibu" adalah satu perumpamaan yang bahwasannya sebagai anak wajib menghormati tiga kali lebih baik ketimbang ayah. Bukan berarti ayah tidak harus dihormati, ya. Tetapi, dalam bentuk jasa seorang ibu di sini jauh lebih besar pengorbanannya.
Dalam kondisi apapun seorang anak harus mementingkan seorang ibu terlebih dahulu daripada diri sendiri, dan orang lain. Mungkin inilah yang dimaksud "surga berada di telapak kaki ibu". Dan kiasan “surga di telapak kaki ibu” sudah banyak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh anak-anak sholeh sholehah untuk tidak durhaka, melawan, membantah, membentak, bahkan sampai menyakiti hari seorang ibu. Sebaliknya anak sholeh sholehah selalu menjaga, menghormati, menyayangi, berkata yang lembut, sopan, taat serta patuh kepada ibu.
Sebagai seorang anak maka harus memperhatikan  ibu dengan baik dengan selalu memberikan senyuman, ucapan kelembutan penuh kasih sayang, dan peluklah ibu  di saat ibu lagi sedih, di saat masalah datang menghampirinya. Terus beri semangat dan motivasi ketika ibu sedang sakit dan selalu do’akan agar cepat sembuh.