Langsung ke konten utama

 Tahan lisan untuk ke surga
Allah SWT telah memberikan anggota tubuh yang lengkap kepada manusia. Salah satunya adalah lisan yang sering kita gunakan untuk berbicara dalam kehidupan sehari-hari. Jagalah lisan kita dengan tidak mengucapkan perkataan yang tidak baik, jika tidak menemukan perkataan yang baik maka diam, dan mulut  kita tidak mengkonsumsi kecuali  yang dihalalkan Allah SWT, niscaya ia akan memasuki surganya Allah SWT.
Sebaliknya, jika kita tidak menjaga lisan dengan baik sehingga menggunakan lisan kita untuk membicarakan kejelekan orang lain, menghina, menghujat dan lainnya. Mulut digunakan untuk mengkonsumsi hal yang diharamkan oleh Allah SWT niscaya hal tersebut akan menjerumuskan kita ke dalam api neraka.
Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir hendaklah berkata baik, atau diam (muttafaqun ‘alaih).
Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullahu sallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Barang siapa yang mampu menjamin apa yang ada diantara kedua rahangnya (lisan) dan apa yang ada diantara kedua kakinya (kemaluan) aku menjamin baginya surga.” (Muttafaq ‘alaih).
Kita sebagai manusia beriman harus senantiasa menjaga lisan kita. Sebab satu kata yang diucapkan oleh lisan kita  bisa membawa ke surga atau ke neraka. Diriwayatkan dari sahabat rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat tanpa dipikirkan terlebih dahulu, dan karenanya dia terlempar ke neraka sejauh antara jarak ke timur.” (HR Bukhari)
Dalam hadits lainnya disebutkan “Dari Abu Hurairah Nabi SAW, beliau bersabda : “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang membuat Allah SWT rida kepadanaya, sang hamba sendiri sama sekali tidak memperhitungkan, namun dengan satu kata itu , allah SWT naikkan derajatnya beberapa derajat, dan sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang membuat Allah murka, sang hamba sendiri tidak memperhitungkannya, namun gara-gara satu kata tersebut sang hamba terperosok ke dalam neraka Jahannam.” (Mutafaq ‘alaih).
Otak kita harus bisa mengendalikan lisan kita dalam berucap. Setiap yang diucapkan oleh lisan akan direkam bahkan diawasi oleh dua malaikat Allah SWT. Ini telah Allah jelaskan dalam Al-Qur’an Surat Qaf ayat 18 yaitu: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (Qur’an Surah Qaf 18).
Ayat diatas menjelaskan bahwa seseorang tidak mengeluarkan kata-kata dan berbicara, kecuali disisinya ada malaikat yang mengawasi ucapannya dan menulisnya, malaikat yang selalu hadir disiapkan untuk melakukan itu.
Penting sekali bagi kita sebagai orang yang beriman untuk menjaga lisan. Rasulullah selalu memberi tuntunan agar kita bergaul dengan sesama senantiasa mengatakan hal-hal yang benar tentang suatu hal atau mengenai orang lain. Atau bahkan lebih baik diam agar tidak salah ucap. Karena semua berita yang datang pantas benar dan pantas juga salah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bacaan Sholat Fardhu

Do'a Iftitah  : اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِى وَبَيْنَ خَطَايَاىَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ ، اللَّهُمَّ نَقِّنِى مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَاىَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin” ( HR.Bukhari 2/182, Muslim 2/98 ) Do'a Ruku'dan Sujud Bacalah Paling Sedikit 3 (Tiga) Kali Kedua : Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata: “ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa membaca do’a dalam ruku ’ dan sujud- nya dengan bacaan :   سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ( Maha suci Engkau wahai Rabb kami, segala pujian bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku).” (HR. Al-Bukhari no. 794 ...
 Langkah-langkah dasar dalam belajar Abu Umar Ibnu Abdil Barr Al-Qurtthubi (463) membawakan riwayat dengan sanadnya sampai kepada Ali bin Hasan bin Syaqiq ia Ali mengatakan, aku mendengar Abdullah Bin Mubarak (181 H ) mengatakan bahwa: Tingkatan pertama ilmu adalah niat. Niat yang baik akan menghasilkan yang baik, sebaliknya niat yang tidak baik akan menghasilkan yang tidak baik pula. Jika kita menanam padi maka kita akan memanen padi dan jika kita menanam cabai pasti akan memanen cabai. Jika kita belajar maka harus mempunyai niat lillahi ta’ala. Mencari ilmu karena semata-mata mencar ridho Allah insha Allah  akan menghasilkan ilmu-ilmu yang berkah dan bermanfaat buat diri sendiri bahkan buat semua orang. Kedua, mendengarkan. Proses yang kedua dalam belajar adalah mendengarkan. Dengarkan dahulu materi-materi pelajaran yang diberikan oleh guru kita. Agar materi yang disampaikan oleh seorang guru akan terekam oleh telinga kita dan pikiran kita. Ketiga, memahami. Proses memahami ...

Siksa Kubur dan Nikmat Kubur

 Dunia ini adalah tempat untuk menanam kebaikan. Jika kita menanam kebaikan, kebaikan tersebut akan kembali kepada diri kita sendiri. Begitu juga sebaliknya jika kita berbuat kejahatan, kejahatan tersebut akan kembali ke diri kita sendiri.   Jika kita bicara mengenai kematian. Kematian ini ada dua hal yang akan terjadi: Pertama, kita akan merasakan kesedihan, kesengsaraan yang luar biasa. Kesedihan dan kesengsaraan karena mendapatkan siksaan dari Alloh SWT. Intinya mendapatkan siksa kubur dari Alloh SWT.  Kedua, kita akan mendapatkan kenikmatan luar biasa yang akan diberikan Alloh SWT, berupa dilakukannya alam bawah kita, terangnya alam barjah serta taman-taman surga dari Alloh SWT.