Langsung ke konten utama

  Patuh kepada orang tua dan mengikuti nasihat orang tua akan membawa pada kesuksesan
    Bagaimana cara untuk menghindari durhaka kepada orang tua agar tidak mendapatkan sangsi dari Allah SWT? Jawabannya adalah kita sebagai seorang anak harus patuh kepada kedua orang tua dengan mengikuti segala perintahnya dan nasihatnya. Karena nasihat orang tua akan membawa kesuksesan hidup di dunia  dan akhirat. Kesuksesan hidup di akhirat adalah mendapatkan surganya Allah SWT.
    Sebagai anak yang sholeh dan sholehah, tentunya memiliki kewajiban berbakti kepada orang tua baik ibu maupun ayah. Bahkan Agama islam mengajarkan dan mewajibkan kita sebagai seorang anak untuk patuh kepada ibu maupun ayah. Patuh kepada orang tua merupakan salah satu sifat yang terpuji.
    Mungkin kita sebagai anak tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ketaatan, kepatuhan pemuda  sholeh zaman dulu. Salah satu pemuda  sholeh zaman dahulu adalah Uwais al-Qarni. Marilah kita simak cerita Uwais al-Qarni agar menjadi renungan buat kita semua agar lebih taat, patuh kepada kedua orang tua. Agar nanti kita mendapatkan kemulian seperti Uwais al-Qarni.
    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda bahwa sebaik-baik tabiin atau pengikut adalah seorang laki-laki yang biasa dipanggil Uwais . Nama lengkapnya Uwais al-Qarni . Beliau adalah seorang anak yatim da hanya tinggal bersama ibunya yang sudah tua dan lumpuh di Yaman.
    Uwais dan ibunya adalah keluarga yang fakir. Rasululah sempat berpesan kepada Umar Bin Khattab  dan Ali Bin Abi Thalib untuk mencari Uwais.
“Carilah ia (Uwais al-Qarni) dan mintalah kepadanya agar memohonkan ampun untuk kalian,”sabda Rasulullah yang diriwayatkan dalam hadits Shohih Muslim.
    Uwais al-Qorni adalah sosok pemuda yang selalu berbakti kepada ibunya. Uwais sangat memuliakan ibunya dengan senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Apapun yang diperintah ibunya atau dilarang ibunya Uwais selalu patuh dan mengikutinya.
    Pada satu waktu, Uwais meminta izin kepada ibunya untuk berjumpa denganRasulullah SAW yang pada saat itu sedang berada di Madinah. Ibunya mengizinkan dan berpesan kepada Uwais agar cepat pulang karena merasa sakit-sakitan. Sampai di Madinah Uwais langung menuju rumah Rasulullah. Namun sayang Uwais tidak bisa menemui Rasulullah sebab sedang di Medan perang.
    Uwais teringat pesan sang ibu agar lekas kembali ke Yaman, Uwais langsung berpamitan kepada Siti Aisyah RA, istri Rasulullah yang ketika itu sedang berada di rumah. Tidak lupa Uwais menitipkan salam buat Rasulullah SAW. Setelah itu Uwais meninggalkan Madinah dan kembali lagi menemui ibunya di Yaman.
    Uwais adalah pemuda yang senantiasa memenuhi keinginan ibunya. Sang ibu yang sudah tua ingin sangat ingin sekali pergi berhaji. Padahal dengan kondisi ibunya sakit-sakitan dan tidak ada uang, Uwais sangat berat untuk memenuhi keinginan ibunya.
    Dari Yaman, perjalanan ke Tanah Suci Makkah sangatlah jauh. Melewati padang tandus yang panas. Orang-orang dari Yaman biasa pergi ke Makkah menggunakan unta dan membawa banayk perbekalan.
Tidak berhenti di situ, Uwais terus berpikir untuk mencari jalan keluar agar ibunya bisa berangkat ke Tanah Suci Makkah. Kemudian Uwais membeli seekor anak lembu yang kemudian membuat kandang di puncak bukit. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. Banyak orang yaman pada waktu itu menganggap aneh kepada Uwais.
    Setelah 8 bulan berat lembu Uwais telak=h mencapai 100 kilogram. Saat tiba musim haji, Uwais merasa bahwa otot-ototnya sudah kuat dan siap untuk mengangkat beban berat. Dia pun menggendong sang ibu dari Yaman ke Makah untuk menunaikan ibadah haji.
    Ketika di Tanah Suci Makah, Uwais al-Qarni dengan tegap menggendong ibunya wukuf di Arafah dan Thowaf di Kakbah. Di depan kakbah air mata sang ibu tumpah.Uwais pun berdo’a, “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu.” “bagaimana dengan dosamu?” tanya sang ibu yang heran karena Uwais tak minta dosanya diampuni.
“Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.” Jawab Uwais.
Allah subhanahu wata’ala pun memberikan karunia untuk Uwais.  Penyakit belang di tubuh Uwais seketika itu juga sembuh. Hanya tertinggal bulatan putih di tengkuknya. Tanda di tengkuk itu merupakan sebuah tanda sebagaimana disebutkan Rasulullah kepada Umar bin Khatab dan Ali Bin Abi thalib untuk mengenali Uwais. Pada akhirnya Umar bin Khatab dan Ali bin Abi Thalib berhasil menemui Uwais. Seperti pesan Rasulullah SAW bahwa Umar bin Khatab dan Ali bin Abi Thalib meminta Uwais agar mendo’akan mereka diampuni Allah SWT.
    Beberapa tahun setelah dengan Umar bin Khatab dan Ali, Uwais wafat. Masyarakat yaman ketika itu heran, sebab banyak orang berbuat untuk memandikan, mensholatkan, dan menguburkan jenazah Uwais.
    Banyak meyakini bahwa, orang-orang yang berbuat memandikan, mensholatkan dan menguburkan jenazah Uwais al-Qarni ketika itu adalah para malaikat Allah SWT.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bacaan Sholat Fardhu

Do'a Iftitah  : اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِى وَبَيْنَ خَطَايَاىَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ ، اللَّهُمَّ نَقِّنِى مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَاىَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin” ( HR.Bukhari 2/182, Muslim 2/98 ) Do'a Ruku'dan Sujud Bacalah Paling Sedikit 3 (Tiga) Kali Kedua : Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata: “ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa membaca do’a dalam ruku ’ dan sujud- nya dengan bacaan :   سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ( Maha suci Engkau wahai Rabb kami, segala pujian bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku).” (HR. Al-Bukhari no. 794 ...
 Langkah-langkah dasar dalam belajar Abu Umar Ibnu Abdil Barr Al-Qurtthubi (463) membawakan riwayat dengan sanadnya sampai kepada Ali bin Hasan bin Syaqiq ia Ali mengatakan, aku mendengar Abdullah Bin Mubarak (181 H ) mengatakan bahwa: Tingkatan pertama ilmu adalah niat. Niat yang baik akan menghasilkan yang baik, sebaliknya niat yang tidak baik akan menghasilkan yang tidak baik pula. Jika kita menanam padi maka kita akan memanen padi dan jika kita menanam cabai pasti akan memanen cabai. Jika kita belajar maka harus mempunyai niat lillahi ta’ala. Mencari ilmu karena semata-mata mencar ridho Allah insha Allah  akan menghasilkan ilmu-ilmu yang berkah dan bermanfaat buat diri sendiri bahkan buat semua orang. Kedua, mendengarkan. Proses yang kedua dalam belajar adalah mendengarkan. Dengarkan dahulu materi-materi pelajaran yang diberikan oleh guru kita. Agar materi yang disampaikan oleh seorang guru akan terekam oleh telinga kita dan pikiran kita. Ketiga, memahami. Proses memahami ...
 Etika terhadap saudara adalah etika yang sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap manusia beriman. Kenapa harus memiliki etika terhadap saudara? karena kita hidup tidak lepas dari mereka. Kita hidup bukan saja berhubungan dengan keluarga saja,akan tetapi di sekeliling kita ada saudara-saudara kita seiman yaitu tetangga dekat dan tetangga jauh.Mereka adalah saudara-saudara yang harus diperlakukan secara baik oleh kita semua. Etika kita kepada saudara diantaranya adalah: Pertama, saling menolong antara sesama saudara. Hal ini dijelaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Almaidah ayat 2.  “Dan tolong menolnglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan, bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksanya.” Kedua, berkata baik kepada saudara. Ucapkanlah kata-kata yang baik dan sopan kepada saudara-saudara kita. menjaga lisan ini sangat penting sekali bagi kita sebagai seorang yang beriman karena selamatny...