Langsung ke konten utama

 Etika seorang suami atas istrinya dan etika istri atas suaminya
          
         Diantara salah satu keharmonisan berkeluarga adalah seorang suami dan istri harus mempunyai etika. Baik etika seorang suami terhadap istri atau sebaliknya etika seorang istri terhadap suaminya. Marilah kita bahas hal ini agar hidup rumah tangga ada dalam ketenangan, keberkahan serta kenyamanan. Diantara etika suami terhadap istri dijelaskan oleh Imam Al-Ghozali dalam kitabnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu’ah al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 442) menjelaskan mengenai adab seorang suami terhadap istri sebagai berikut:
    “Adab suami terhadap istri, yakni berinteraksi dengan baik, bertutur kata yang lembut, menunjukan cinta kasih, bersikap lapang ketika sendiri, tidak sering mempersoalkan kesalahan, memaafkan jika istri berbuat salah, menjaga harta istri, tidak banyak mendebat, mengeluarkan biaya untuk kebutuhan istri secara tidak bakhil, memuliakan keluarga istri, senantiasa memberi janji yang baik, dan selalu bersemangat terhadap istri.”
Dari kutipan di atas  perlu dijelaskan kembali lebih detail bahwa etika seorang suami terhadap istri diantaranya adalah:
Pertama,  berinteraksi dengan baik. Seorang suami harus berinteraksi dengan istri secara baik, sehingga tidak ada batas waktu atau jarak untuk memisahkan keduanya. Kapanpun dimanapun dalam waktu sebentar atau lama mereka harus tetap saling berinteraksi dengan baik. Meskipun masalah keluarga semakin hari semakin banyak dan menantang, suami yang bijak akan menghadapinya dengan penuh kedewasaan sehingga semua masalah akan dipecahkannya dengan baik.  
Kedua, bertutur kata yang lembut. Seorang suami harus selalu menjaga lisannya dalam bertutur kata dengan istrinya. Keluarkan kata-kata yang lembut yang bisa menjaga keharmonisan rumah tangga. Hendaknya seorang suami tidak mengeluarkan kata-kata yang bisa menyakitkan seorang istri, uacapan yang menyinggung perasaannya. Ucapkan kata-kata yang indah, lembut, penuh kasih sayang dan  kata-kata yang bisa menghipnotis istri kita. Sehingga akan terjalin rumah yang bahagia dan menyenangkan.
    Jika istri sedang mencurahkan isi  hatinya maka seorang suami harus berusaha untuk mendengarkannya. Itulah seorang istri ingin dimengerti dan ingin diperhatikan oleh seorang suami. Masalah inilah yang belum bisa dipahami oleh seorang suami yaitu mendengarkan keluhan-keluhan seorang istri. Jika seorang suami yang bijak tentunya akan cepat merespon masalah-masalah istri tersebut dan akan segera mencarikan pemecahan masalahnya. Sehingga seorang suami akan benar teruji sebagai kepala rumah tangga bagi keluarganya.
#Sarapankata

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bacaan Sholat Fardhu

Do'a Iftitah  : اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِى وَبَيْنَ خَطَايَاىَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ ، اللَّهُمَّ نَقِّنِى مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَاىَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin” ( HR.Bukhari 2/182, Muslim 2/98 ) Do'a Ruku'dan Sujud Bacalah Paling Sedikit 3 (Tiga) Kali Kedua : Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata: “ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa membaca do’a dalam ruku ’ dan sujud- nya dengan bacaan :   سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ( Maha suci Engkau wahai Rabb kami, segala pujian bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku).” (HR. Al-Bukhari no. 794 ...
 Langkah-langkah dasar dalam belajar Abu Umar Ibnu Abdil Barr Al-Qurtthubi (463) membawakan riwayat dengan sanadnya sampai kepada Ali bin Hasan bin Syaqiq ia Ali mengatakan, aku mendengar Abdullah Bin Mubarak (181 H ) mengatakan bahwa: Tingkatan pertama ilmu adalah niat. Niat yang baik akan menghasilkan yang baik, sebaliknya niat yang tidak baik akan menghasilkan yang tidak baik pula. Jika kita menanam padi maka kita akan memanen padi dan jika kita menanam cabai pasti akan memanen cabai. Jika kita belajar maka harus mempunyai niat lillahi ta’ala. Mencari ilmu karena semata-mata mencar ridho Allah insha Allah  akan menghasilkan ilmu-ilmu yang berkah dan bermanfaat buat diri sendiri bahkan buat semua orang. Kedua, mendengarkan. Proses yang kedua dalam belajar adalah mendengarkan. Dengarkan dahulu materi-materi pelajaran yang diberikan oleh guru kita. Agar materi yang disampaikan oleh seorang guru akan terekam oleh telinga kita dan pikiran kita. Ketiga, memahami. Proses memahami ...

Siksa Kubur dan Nikmat Kubur

 Dunia ini adalah tempat untuk menanam kebaikan. Jika kita menanam kebaikan, kebaikan tersebut akan kembali kepada diri kita sendiri. Begitu juga sebaliknya jika kita berbuat kejahatan, kejahatan tersebut akan kembali ke diri kita sendiri.   Jika kita bicara mengenai kematian. Kematian ini ada dua hal yang akan terjadi: Pertama, kita akan merasakan kesedihan, kesengsaraan yang luar biasa. Kesedihan dan kesengsaraan karena mendapatkan siksaan dari Alloh SWT. Intinya mendapatkan siksa kubur dari Alloh SWT.  Kedua, kita akan mendapatkan kenikmatan luar biasa yang akan diberikan Alloh SWT, berupa dilakukannya alam bawah kita, terangnya alam barjah serta taman-taman surga dari Alloh SWT.